Sabtu, 08 Februari 2014
Celempung Alat Musik Pukul Tradisional Jawa Barat
Celempung merpakan alat musik tradisional jawa barat.
Celempung sendiri merupakan alat musik yang terbuat dari hinis bambu yang memanfaatkan gelombang resonansi yang ada dalam ruas batang bambu. Saat ini celempung yang waditranya mempergunakan bambu masih dipertahankan di Desa Narimbang Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang.
Celempung sendiri merupakan alat musik yang terbuat dari hinis bambu yang memanfaatkan gelombang resonansi yang ada dalam ruas batang bambu. Saat ini celempung yang waditranya mempergunakan bambu masih dipertahankan di Desa Narimbang Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang.
Alat pemukulnya terbuat dari bahan bambu atau kayu yang ujungnya diberi
kain atau benda tipis agar menghasilkan suara nyaring.
Cara memainkan
alat musik ini ada dua cara, yaitu :
a) cara memukul; kedua alur sembilu dipukul secara bergantian tergantung kepada ritme-ritme serta suara yang diinginkan pemain musik,
b) pengolahan suara; Yaitu tangan kiri dijadikan untuk mengolah suara untuk mengatur besar kecilnya udara yang keluar dari bungbung
(badan) celempung.
Jika menghendaki suara tinggi lubang (baham) dibuka
lebih besar, sedang untuk suara rendah lubang ditutup rapat-rapat Suara
celempung bisa bermacam-macam tergantung kepada kepintaran si pemain
musik. Untuk saat ini alat musik ini sudah jarang dimainkan , dalam ensambel celempungan perannya sudah diganti dengan kendang.
Rabu, 05 Februari 2014
wayang golek
Wayang Golek adalah suatu seni pertunjukan wayang yang terbuat dari boneka kayu, yang terutama sangat populer di wilayah Tanah Pasundan.
Daftar isi
Wayang
Wayang adalah bentuk teater rakyat yang sangat populer, terutama di pulau Jawa dan Bali. Orang sering menghubungkan kata “wayang” dengan “bayang”, karena dilihat dari pertunjukan wayang kulit yang memakai layar, dimana muncul bayangan-bayangan. Di Jawa Barat, selain dikenal wayang kulit, yang paling populer adalah wayang golek. Istilah golek dapat merujuk kepada dua makna, sebagai kata kerja kata golek bermakna 'mencari', sebagai kata benda golek bermakna boneka kayu.[1]
Berkenaan dengan wayang golek, ada dua macam diantaranya wayang golek
papak (cepak) dan wayang golek purwa yang ada di daerah Sunda. Kecuali wayang orang
yang merupakan bentuk seni tari-drama yang ditarikan manusia,
kebanyakan bentuk kesenian wayang dimainkan oleh seorang dalang sebagai
pemimpin pertunjukan yang sekaligus menyanyikan suluk, menyuarakan
antawacana, mengatur gamelan mengatur lagu dan lain-lain.
Pola pagelaran
Tokoh wayang Walangsungsang dan Rara Santang yang menyebarkan agama Islam di Tanah Sunda
Sebagaimana alur cerita pewayangan umumnya, dalam pertunjukan wayang
golek juga biasanya memiliki lakon-lakon baik galur maupun carangan.
Alur cerita dapat diambil dari cerita rakyat seperti penyebaran agama
Islam oleh Walangsungsang dan Rara Santang maupun dari epik yang
bersumber dari cerita Ramayana dan Mahabarata dengan menggunakan bahasa Sunda dengan iringan gamelan Sunda (salendro), yang terdiri atas dua buah saron, sebuah peking, sebuah selentem, satu perangkat boning, satu perangkat boning rincik, satu perangkat kenong, sepasang gong (kempul dan goong), ditambah dengan seperangkat kendang (sebuah kendang Indung dan tiga buah kulanter), gambang dan rebab.
Dalam pertunjukan wayang golek, lakon yang biasa dipertunjukan adalah
lakon carangan. Hanya kadang-kadang saja dipertunjukan lakon galur. Hal
ini seakan menjadi ukuran kepandaian para dalang menciptakan lakon
carangan yang bagus dan menarik. Beberapa dalang wayang golek yang
terkenal diantaranya Tarkim, R.U. Partasuanda, Abeng Sunarya, Entah
Tirayana, Apek, Asep Sunandar Sunarya, Cecep Supriadi, ki dalang IIN wahyu iskandar dll. Pola pengadegan wayang golek adalah sebagai berikut;
- Tatalu, dalang dan sinden naik panggung, gending jejer/kawit, murwa, nyandra, suluk/kakawen, dan biantara;
- Babak unjal, paseban, dan bebegalan
- Nagara sejen
- Patepah
- Perang gagal
- Panakawan/goro-goro
- Perang kembang
- Perang raket
- Tutug
Salah satu fungsi wayang dalam masyarakat adalah ngaruat (ruwat), yaitu membersihkan dari kecelakaan (marabahaya). Beberapa orang yang diruwat (sukerta), antara lain:
- Wunggal (anak tunggal)
- Nanggung Bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal dunia)
- Suramba (empat orang putra)
- Surambi (empat orang putri)
- Pandawa (lima putra)
- Pandawi (lima putri)
- Talaga Tanggal Kausak (seorang putra dihapit putri)
- Samudra hapit sindang (seorang putri dihapit dua orang putra), dan sebagainya.
Sejarah perkembangan
Kesenian wayang golek diperkirakan mulai berkembang di Jawa Barat pada masa ekspansi Kesultanan Mataram
pada abad ke-17, meskipun sebenarnya beberapa pengaruh warisan budaya
Hindu masih bertahan di beberapa tempat di Jawa Barat sebagai bekas
wilayah Kerajaan Sunda Pajajaran.
Pakem dan jalan cerita wayang golek sesuai dengan versi wayang kulit
Jawa, terutama kisah wayang purwa (Ramayana dan Mahabharata), meskipun
terdapat beberapa perbedaan, misalmya dalam penamaan tokoh-tokoh
punakawan yang dikenal dalam versi Sundanya.
Pertunjukan seni wayang golek mulai mendapatkan bentuknya yang
seperti sekarang sekitar abad ke-19. Saat itu kesenian wayang golek
merupakan seni pertunjukan teater rakyat yang dipagelarkan di desa atau
kota karesidenan. Selain berfungsi sebagai pelengkap upacara selamatan
atau ruwatan, pertunjukan seni wayang golek juga menjadi tontonan dan
hiburan dalam perhelatan tertentu.
Sejak 1920-an,
selama pertunjukan wayang golek diiringi oleh sinden. Popularitas
sinden pada masa-masa itu sangat tinggi sehingga mengalahkan popularitas
dalang wayang golek itu sendiri, terutama ketika zamannya Upit Sarimanah dan Titim Patimah sekitar tahun 1960-an.
Wayang golek saat ini lebih dominan sebagai seni pertunjukan rakyat,
yang memiliki fungsi yang relevan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat
lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun material. Hal demikian
dapat kita lihat dari beberapa kegiatan di masyarakat misalnya ketika
ada perayaan, baik hajatan (pesta kenduri) dalam rangka khitanan,
pernikahan dan lain-lain adakalanya diriingi dengan pertunjukan wayang
golek.
Kini selain sebagai bentuk teater seni pertunjukan wayang, kerajinan
wayang golek juga kerap dijadikan sebagai cindera mata oleh para
wisatawan. Tokoh wayang golek yang lazim dijadikan cindera mata benda
kerajinan adalah tokoh pasangan Rama dan Shinta, tokoh wayang terkenal seperti Arjuna, Srikandi, dan Krishna, serta tokoh Punakawan seperti Semar dan Cepot.
Kerajinan wayang golek ini dijadikan sebagai dekorasi, hiasan atau
benda pajangan interior ruangan. Adapun di jaman modern ini Wayang golek purna
kreasi sudah mulai di kembangkan oleh para pengrajin wayang muda,yang
tetap tidak menghilangkan pakem dari Wayang golek purwa, di ataranya ada
pengarajin Cahya Medal ,Wayang Golek Evolution dan lain-lain.
17 pupuh
Pupuh (bahasa Sunda: Pepeuh) adalah bentuk puisi tradisional Sunda yang memiliki jumlah suku kata dan rima
tertentu di setiap barisnya. Terdapat 17 jenis pupuh, masing-masing
memiliki sifat tersendiri dan digunakan untuk tema cerita yang berbeda.
Jenis
- Asmarandana, bertemakan birahi, cinta kasih seseorang kepada kekasih, sahabat, maupun keluarga.
- Balakbak, bertemakan lawak, banyolan tentang kehidupan sehari-hari.
- Dangdanggula, bertemakan ketenteraman, keagungan, kegembiraan.
- Durma, bertemakan kemarahan, kesombongan, semangat.
- Gambuh, bertemakan kesedihan, kesusahan, kesakitan.
- Gurisa, bertemakan khayalan seseorang.
- Jurudemung, bertemakan kebingungan, masalah kehidupan.
- Kinanti, bertemakan penantian seseorang.
- Lambang, bertemakan lawak dengan aspek renungan.
- Magatru, bertemakan penyesalan.
- Maskumambang, bertemakan kesedihan yang mendalam, rasa prihatin.
- Mijil, bertemakan kesedihan yang menimbulkan harapan.
- Pangkur, bertemakan perasaan sebelum mengemban sebuah tugas berat.
- Pucung, bertemakan rasa marah pada diri sendiri.
- Sinom, bertemakan kegembiraan.
- Wirangrong, bertemakan rasa malu akan tingkah laku sendiri.
- Ladrang, bertemakan sindiran.
karinding
Karinding merupakan salah satu alat musik tiup tradisional Sunda. Ada beberapa tempat yang biasa membuat karinding, seperti di lingkung Citamiang, Pasirmukti, (Tasikmalaya), Lewo Malangbong, (Garut), dan Cikalongkulon (Cianjur) yang dibuat dari pelepah kawung (enau). Di Limbangan dan Cililin karinding dibujat dari bambu, dan yang menggunakannya adalah para perempuan, dilihat dari bentuknya saperti tusuk biar mudah ditusukan di sanggul rambut.
Dann bahan enau kebanyakan dipakai oleh lelaki, bentuknya lebih pendek
biar bisa diselipkan dalam wadah rokok. Bentuk karinding ada tiga ruas.
Cara Memainkan
Karinding disimpan di bibir, terus tepuk bagian pemukulnya biar
tercipta resonansi suara. Karindng biasanya dimainkan secara solo atau
grup (2 sampai 5 orang). Seroang diantaranya disebut pengatur nada anu
pengatur ritem. Di daerah Ciawi, dulunya karinding dimainkan bersamaan takokak (alat musik bentuknya mirip daun).
Secara konvensional menurut penuturan Abah Olot nada atau pirigan
dalam memainkan karinding ada 4 jenis, yaitu: tonggeret, gogondangan,
rereogan, dan iring-iringan..
Fungsinya
Karinding yaitu alat buat mengusir hama di sawah. Suara yang dihasilkan dari getaran jarum karinding biasanya bersuara rendah low decible.
Suaranya dihasilkan dari gesekan pegangan karinding dan ujung jari yang
ditepuk-tepakkan. Suara yang keluar biasanya terdengar seperti suara wereng, belalang, jangkrik, burung, dan lain-lain. Yang jaman sekarang dikenal dengan istilah ultrasonik.
Biar betah di sawah, cara membunyikannya menggunakan mulut sehingga
resonansina menjadi musik. Sekarang karinding biasa digabungkan dengan
alat musik lainnya.
Bedanya membunyikan karinding dengan alat musik jenis mouth harp
lainnya yaitu pada tepukan. Kalau yang lain itu disentil. Kalau cara
ditepuk dapat mengandung nada yang berbeda-beda. Ketukan dari alat musik
karinding disebutnya Rahel,
yaitu untuk membedakan siapa yang lebih dulu menepuk dan selanjutnya.
Yang pertama menggunakan rahèl kesatu, yang kedua menggunakan rahel
kedua, dan seterusnya. Biasanya suara yang dihasilkan oleh karinding
menghasilkan berbagai macam suara, diantaranya suara kendang, goong, saron bonang atau bass, rhytm, melodi dan lain-lain. Bahkan karinding bisa membuat lagu
sendiri, sebab cara menepuknya beda dengan suara pada mulut yang bisa
divariasikan bisa memudahkan kita dalam menghasilkan suara yang
warna-warni. Kata orang tua dahulu, dulu menyanyikan lagu bisa pakai
karinding, Kalau kita sudah mahir mainkan suara karinding, pasti akan
menemukan atau menghasilkan suara buat berbicara, tetapi suara yang
keluar seperti suara robotik.
Langganan:
Postingan (Atom)


